Selasa, 08 Oktober 2019

Ketika Guru akan Segera Tersingkirkan

Media Publication

I. Masalah Guru

Apakah Anda tersinggung dengan ungkapan pada judul artikel ini ketika guru akan segera tersingkirkan!. Atau "Guru akan segera digantikan oleh Google" Betulkah peran seorang guru di depan kelas akan berubah dan digantikan oleh mesin seperti google?

Kalau Anda tersinggung dan terganggu oleh pertanyaan ini maka itu artinya, Anda sedang berada di jalur yang benar. Semakin Anda terganggu dan tersinggung dengan ungkapan diatas maka semakin baik. Karena Anda akan membuktikan bahwa itu sesungguhnya tidak benar bahwa itu benar adanya !?

Artinya bahwa itu "tidak benar," yaitu guru digantikan oleh google karena peran yang Anda mainkan sebagai guru memang benar-benar tidak bisa digantikan oleh yang namanya google, atau si mbah google dan hanya anda sendiri yang mampu melakukannya.

Tetapi, "ini juga benar," sebab kalau Anda tidak berubah dalam melakukan peran sebagai guru, maka google akan mengambil peran Anda sebagai guru, sebab si google benar-benar seorang "Mbah" yang tahu segala sesuatu dibandingkan Anda sebagai seorang guru, dan mungkin hasil yang dicapai dengan si google lebih baik dari anda sebagai guru.

Mungkin inilah yang menjadi jauh lebih penting sebagai perenungan Anda sebagai seorang guru, yang hari ini dirayakan di Indonesia sebagai hari guru sedunia, yang sebenarnya jatuh pada hari Sabtu yang lalu tanggal 5 Oktober 2019 sebagai hari guru sedunia atau Educational International.

II. Guru vs Robot

Sekitar dua minggu yang lalu, seorang kolega saya mengirimkan sebuah "meme" kepada saya dan mendorong saya untuk menulis sebuah artikel tentang peran guru atau peran seorang dosen di lembaga pendidikan. Baik di lembaga pendidikan dasar dan menengah maupun dan terlebih di pendidikan tinggi.

Bunyi meme yang dikirimkan itu adalah sebagai berikut:
"Jika anda menjadi guru hanya sekedar mentransfer pengetahuan, maka ada saatnya anda tidak akan dibutuhkan lagi. Karena nyatanya google lebih cerdas dan lebih tahu banyak hal daripada anda! Namun, jika anda menjadi guru yang juga mentransfer adab, akhlak, ketaqwaan dan keikhlasan anda akan selalu dibutuhkan. Karena google tak memiliki itu semua!"

Jadi, jelas apa yang menjadi problem yang dihadapi oleh lembaga pendidikan kita saat ini dalam diri seorang guru. Ini menyangkut persoalan mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik di sekolah.

Kalau peran seorang guru sekedar memindahkan ilmu kepada siswa dan mahasiswa, pasti google lebih hebat, lebih cepat, lebih akurat dan lebih maksimal hasilnya ketimbang guru yang sarat dengan berbagai kelemahan dan kekurangan.

Sesungguhnya, persoalan inilah yang menjadi inti dari apa yang dikenal sekarang Revolusi Industri 4.0 dan Era Disrupsi Inovasi, yang memiliki kemampuan untuk menggantikan semua pekerjaan yang sifatnya mekanis dan berulang-ulang dikerjakan oleh tenaga manusia.

Robotis yang akan berperan melakukan itu semua, menyebabkan peran manusia tersingkir habis. Dan kalaupun masih dibutuhkan tenaga manusia, jumlahnya sangat minim, misalnya dari 100 orang mungkin tinggal butuh paling banyak 10 orang saja untuk mengawasi pekerjaan si robot itu.

Dan inilah sesungguhnya kenyataan konkrit yang dihadapi oleh manusia di era ini, yaitu era disrupsi yang menghilangkan banyak jenis pekerjaan yang dilakukan oleh manusia, dan sekarang digantikan oleh mesin atau robot.

Jadi, kalau seorang guru melakukan tugasnya hanya untuk memindahkan ilmu dan pengetahuan, dari buku ke kepala siswa, atau dari sumber lain kepada siswa, maka tugas itu sudah bis digantikan oleh google lebih baik, cepat, efisien, akurat dan maksimal hasilnya.

Tetapi, apabila tugas seorang guru tidak hanya mentransfer ilmu dan pengetahuan, seperti mengubah akhlak, adab, tabiat, motivasi, semangat hidup dan nilai-nilai serat budaya maka itu tidak bisa dilakukan oleh google dan guru masih bisa dibutuhkan lagi.

III. Peran Guru Harus Berubah

Revolusi industri 4.0 dan Era Disrupsi Inovasi memaksakan semua orang dalam melakukan pekerjaan bahkan kegiatan apapun harus berubah. Kalau tidak berubah maka akan ketinggalan habis. Ketinggalan artinya, tidak bisa beradaptasi dengan dunia yang sudah berubah. Akhirnya, hidup menjadi tidak mampu berkembang dan bertumbuh, bahkan bisa jadi menghadapi banyak masalah.

Guru demikian juga, harus berubah. Secara total harus berubah mind-set dalam menjalankan fungsi dan peran sebagai guru. Pertama, harus menguasai perkembangan teknologi informasi yang terkait langsung dengan proses pembelajaran yang dilakukan setiap hari. Sebab, guru bukan lagi satu-satunya sumber pembelajaran. Harus memiliki sikap open sources, sedemikian rupa sehingga anak-anak didik bebas mencari berbagai sumber belajar melalui digital.

Guru harus mampu mengarahkan semua penggunaan open-sources itu menuju pada kinerja belajar yang diharapkan secara minimal. Komunikasi tidak lagi one way traffic, tetapi harus berbasis pada siswa itu sendiri.

Kedua, peran guru lebih banyak dalam hal melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh google, Terutama dalam mengubah sikap, etika, perilaku, sistem nilai dan interaksi sosial yang membangun masa depan yang lebih menantang.

Era yang sedang dihadapi saat ini menuntut para guru untuk terus belajar, agar mampu mengadaptasi semua isu yang berguna bagi perubahan perilaku siswa. Sebab, sesungguhnya, anak-anak didik juga mengikuti berbagai informasi setiap saat melalui alat-alat digital yang dimiliki.

Oleh karenanya, hanya seorang guru yang mampu terus mengikuti isu-isu utama yang bisa dan mampu mengarahkan perubahan kualitatif pada siswa dengan efektif.

IV. Mengelola Generasi Z
Seorang guru harus memahami secara tepat siapa sesungguhnya peserta didik yang diajar dan dibina setiap hari. Hanya dengan memahami dunia anak didik maka proses pembelajaran akan lebih efektif dan tidak sia-sia belaka.

Harus disadari dengan benar bahwa saat ini yang sedang dihadapi oleh para guru ada anak-anak generasi Z. Mereka memiliki karakter yang sangat berbeda dengan generasi sebelumnya, yaitu generasi milenial.
 
Generasi Z, Gen Zers, yang lahir antara tahun 1995 sd 2012, memiliki karakter utama yang disebut  generasi neo-digital. Artinya, mereka lahir ketika digital telah menjadi kebutuhan masyarakat. Dan juga kebutuhan mereka pada saat ini.

Bagi mereka alat-alat digital bukan lagi barang mewah, tetapi itu sudah menjadi kebutuhan seperti makan dan minum serta berpakaian saja. Dan karenanya harus dipenuhi. Dan dengan demikian, dalam belajarpun peralatan digital menjadi keharusan bagi mereka.

Mereka lebih mudah belajar melalui peralatan digital, seperti smartphone, laptop, dan computer. Bahkan mereka menghindari untuk membawa buku-buk teks yang tebal-tebal. Inilah revolusi perilaku belajar yang terdapat dalam diri Gen Z ini.

Nah, seorang guru tidak bisa tidak, harus memahami ini agar perannya menjadi efektif. Kalau tidak, bisa jadi gurunya akan frustrasi sendiri karena memang dunia Gen Zers ini sangat berbeda dengan yang lain.