Berita Populer

Melakukan Check up Keuangan Pribadi

Beberapa waktu yang lalu, Trisakti School of Management (TSM) telah sukses menyelenggarakan Sharing Session pertama dengan membahas tahap awal dari “4 Level Financial” yakni financial literacy. Sebagai keberlanjutan dari materi tersebut, TSM kembali mengadakan Sharing Session kedua yang akan mengupas lebih dalam lagi mengenai “Financial Security”.

Pemaparan materi disampaikan oleh Ibu Erika Jimena Arilyn, S.E., M.M., CRP., CPF., CFP., selaku pembicara. Uniknya, sebelum penyampaian materi, narasumber mengadakan Rapid Test yang berisi beberapa pertanyaan pilihan singkat untuk partisipan. Selanjutnya, narasumber menjabarkan tentang 8 rasio keuangan yang dapat digunakan sebagai financial check up atau pemeriksa keuangan. “Rasio likuiditas menggambarkan dana darurat atau dana cadangan yang dimiliki. Yang namanya darurat berarti tidak ada rencananya, tidak direncanakan. Setelah kita keluarkan, kita gunakan dana darurat tersebut, kita harus segera mengisinya kembali dan ditempatkan ke dalam instrumen yang likuid,” jelas Bu Erika dalam menjabarkan salah satu rasio tersebut.

Pada pertengahan materi, narasumber memberikan beberapa poin yang harus harus dipertimbangkan sebelum melakukan investasi. Poin tersebut terdiri dari kepemilikan cash flow yang surplus, dana darurat, ketiadaan akan hutang konsumtif yang tersumbat, sampai dengan memiliki proteksi. Narasumber juga menyarankan jika jumlah pemasukan belum surplus atau masih sama setiap bulannya, lebih baik tidak melakukan investasi terlebih dahulu. Sebagai penutupan materi, narasumber memberikan ilustrasi tentang pentingnya memiliki payung pribadi bukan sekadar bergantung terhadap pinjaman. “Misalnya saya pensiun bulan depan, berarti asuransi yang diperoleh dari perusahaan sudah ditarik. Artinya payung yang kita miliki selama bekerja sudah tidak ada lagi, sehingga kita bisa kehujanan. Oleh karena itu, kita harus memiliki payung sendiri,” ujar narasumber dalam menjelaskan ilustrasi tersebut.

Setelah pemaparan materi selesai, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Adapun salah satu partisipan bertanya, “Apakah minimalist movement yang berada di Jerman bisa diterapkan di Indonesia?.” Narasumber menjawab pertanyaan tersebut dengan sangat jelas, “Tentu bisa, karena Indonesia memiliki tradisi buyut yang luar biasa. Misalnya kalau memiliki rumah bisa digunakan untuk kumpul acara keluarga, acara tahunan dan lain sebagainya. Namun, yang menjadi kendala adalah jika rumah kita masih berbentuk kontrakan, karena tempat parkirnya masih sangat terbatas.” Sesi tanya jawab berlangsung dengan sangat interaktif, kemudian acara ditutup dengan pembagian doorprize serta sertifikat kepada pembicara sebagai bentuk apresiasi.

Begitulah keseruan pembahasan tentang financial security kali ini. Semoga materi yang disampaikan dapat diterapkan oleh seluruh partisipan sebagai upaya dalam mencapai kebebasan finansialnya. Akhir kata, sampai jumpa dalam sesi berikutnya!