Berita Populer

Mencapai Tujuan Dengan Growth Mindset

Mencapai Tujuan Dengan Growth Mindset

Pola pikir atau mindset telah menjadi kebutuhan pokok untuk membantu kita dalam berpikir, berkomunikasi, dan berperilaku sebagai individu. Memiliki mindset yang positif dapat membantu seseorang untuk terus berkembang ke arah yang positif. Sebaliknya jika seseorang memiliki mindset yang negatif, hal ini akan membatasi mereka dalam berperilaku terhadap diri sendiri maupun orang lain. Seorang individu dapat memilih dan menentukan hidup seperti apa yang akan mereka jalani kedepannya. Semua ini tergantung dari mindset yang mereka terapkan bagi diri sendiri.

Pada Jumat, 24 Juni 2022, mahasiswa/i TSM diberikan kesempatan untuk menghadiri webinar yang bertemakan “Growth Mindset”. Webinar ini dibawakan oleh seorang ahli di bidangnya yaitu, Ibu Tanti Diniyanti, S.Psi., yang merupakan seorang psikologis terapis dan trainer. Webinar dimulai dengan penjelasan mengenai mindset, yang menjadi sumber untuk mengubah perilaku kita. Sehingga mindset berkaitan secara langsung dengan perilaku yang dapat memberikan hasil. Seringkali, kita memiliki pola pikir yang berwujud “self talk” yaitu berbicara di dalam hati kita masing-masing yang berkaitan dengan pikiran, perasaan, dan perkataan yang nantinya mempengaruhi pikiran kita.

Lalu, mengapa mindset menjadi hal yang penting untuk dibahas? Ibu Tanti memaparkan bahwa pola dari mindset terdiri dari pikiran, perasaan, perkataan, perilaku, dan sikap. Untuk mendapatkan mindset yang tepat bagi diri kita, sebaiknya kita mengenali diri kita terlebih dahulu melalui kendali, perubahan, dan pilihan yang dibuat oleh diri kita sendiri. Mindset yang kita miliki memang mungkin dapat diubah oleh orang lain, namun lebih baik jika kita mengubah dan mengizinkan perubahan ini atas kendali diri kita sendiri. Prinsip ini yang kemudian memberi hasil berupa apakah yang kita lakukan memberdayakan kita dan apakah hal yang kita lakukan berfokus pada masalah atau solusi.

Salah satu pola pikir yang dianggap memberdayakan diri adalah growth mindset. Penelitian ini dibuktikan oleh Carol Dweck yang mengatakan bahwa orang-orang yang cenderung memberdayakan diri lebih sering bertumbuh ke arah yang mereka inginkan. Memberdayakan diri dapat dilakukan dengan:

  1. Tidak membatasi atau melabeli diri dengan label negatif (Labeling),
  2. Berorientasi pada pemecahan masalah secara kreatif (Problem Solving),
  3. Meyakini bahwa kegagalan tidak permanen,
  4. Kegagalan hanya umpan balik tentang apa yang tidak efektif (Failure and Feedback),
  5. Percaya bahwa potensi diri dapat diolah melalui upaya-upaya (Efforts),

Ibu Tanti juga memaparkan jenis pola pikir yang berkebalikan dari growth mindset, pola ini disebut sebagai fixed mindset, yaitu sebuah pola pikir yang meyakini bahwa kualitas dasar diri, seperti intelegensi atau bakat, dan karakter diri tidak mungkin berubah. Orang yang berpikir dengan fixed mindset cenderung meyakini bahwa kemampuan untuk melakukan sesuatu dipengaruhi oleh faktor genetis atau bawaan, serta hal seperti keterampilan dan keahlian bersifat sebagai pemberian. Fixed mindset membuat kita memiliki sikap mental yang mudah menyerah sebelum mencoba dan berhenti sebelum berusaha sehingga kita akan sulit untuk berkembang.

Hubungan antara growth dan fixed mindset menciptakan suatu dinamika, dimana seseorang dapat memiliki kedua pola pikir tersebut. Hal ini tergantung dari bagaimana kita memproses dan mengolah informasi yang ada di depan kita. Kita bisa mengidentifikasi pola pikir yang ada di dalam pikiran kita. Caranya yaitu dengan membedakan di kondisi seperti apa kita menghadapi pola pikir growth dan kapan kita menghadapi pola pikir fixed. Kondisi ini dapat dilihat ketika kita menghadapi suatu tantangan, kegagalan, kerja keras, dan kritik. Orang yang memiliki growth mindset cenderung merasa bahwa tantangan, kegagalan, kerja keras, dan kritik merupakan suatu hal yang harus dihadapi dan tidak akan menghentikan langkah mereka. Sebaliknya, fixed mindset ketika menghadapi hal demikian, akan berubah pikiran dan menghentikan langkahnya.

Terakhir, Ibu Tanti menyarankan para peserta untuk mengamati serta mencatat apa yang dipikirkan dan rasakan lalu, mengubahnya menjadi growth mindset statement.  Ketika kita memiliki pola pikir yang kita rasa merupakan fixed mindset, kita dapat mengubahnya menjadi growth mindset. Misalnya “Kalau aku tidak mencoba, maka aku tidak akan gagal.” Kalimat ini dapat diubah menjadi “Aku hanya gagal ketika berhenti mencoba!”. Hal ini menekankan bahwa sejatinya diri kita sendiri yang dapat menentukan dan membawa kemana kita akan pergi melalui mindset yang kita tanam. Akhir kata, jangan mudah menyerah dan stay positive!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *