Berita Populer

Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Sosial, Memang Bisa?

Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Sosial, Memang Bisa?

Trisamantrada lagi-lagi membawa keseruan dan ilmu baru di dalam organisasinya. UKM yang satu ini tidak henti-hentinya mencintai dan melestarikan kebudayaan Indonesia, lho! Terbukti dengan beberapa kegiatan seru yang para badan pengurusnya hadirkan di setiap tahunnya. Kali ini, UKM yang bergerak di bidang tari tradisional tersebut kembali mengadakan sebuah webinar SEMARTRA yang mengangkat tema “Mengembangkan Seni Tari Melalui Media Sosial”. Trisamantrada berharap dengan adanya webinar ini dapat membuat para generasi muda lebih ‘melek’ terhadap kebudayaan Indonesia. Selain itu, program juga menjadi salah satu langkah yang mereka emban untuk membantu melestarikan kebudayaan Indonesia. Webinar ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 23 Juli 2022 melalui Zoom. Selain itu, para panitia juga mendatangkan kedua pembicara yang ahli di bidangnya yakni, Kak Muhammad Fahrul dan Kak Christianno Rae, S.Pd.

Webinar dimulai dengan kata pembuka dari para MC, lalu dilanjutkan dengan kata sambutan dari Bapak Sutrisno, S.E. selaku Kepala Bagian Administrasi Kemahasiswaan dan Alumni, Aulia Putri selaku perwakilan dari Badan Perwakilan Mahasiswa, Gabriella Audrey selaku perwakilan dari Senat Mahasiswa, Syifa Febriani selaku ketua dari UKM Trisamantrada, dan Novia Syahrani selaku ketua pelaksana Webinar SEMARTRA 2022. Tidak lupa, Trisamantrada turut menampilkan video tari dari salah satu anggotanya yang mengangkat cerita dari Rahwana Gandrung.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari narasumber pertama yaitu Kak Muhammad Fahrul yang merupakan seorang penari tradisional, Putra Tari Indonesia Kepulauan Kalimantan 2021, dan juga seorang content creator. Pada kesempatan ini, Kak Fahrul memberikan pengetahuan singkat mengenai seni tari, dimana seni tari adalah cabang seni yang mengungkapkan ekspresi, keindahan, dan makna melalui gerak tubuh. Selain itu, seni tari memiliki beberapa unsur utama yaitu, wiraga (cara seorang penari menunjukan bentuk tubuhnya saat menari), wirasa (cara seorang penari mengekspresikan ‘rasa’ dari cerita yang mereka bawakan), dan wirama (cara seorang penari merespon kepada musik yang ada). Unsur utama tersebut dibantu oleh beberapa unsur pendukung seperti ragam gerak, tata busana, tata rias, properti, dan pencahayaan. Tidak hanya membahas unsur, Kak Fahrul juga memaparkan berbagai jenis tari, lho! Tari-tari ini bisa dibedakan berdasarkan bentuk penyajian dan jumlah penari.

Ilmu basic sudah didapat, lalu bagaimana sebenarnya cara kita untuk mengembangkan seni tari melalui media sosial? Menurut Kak Fahrul, kita dapat mengambil beberapa langkah yaitu mengetahui terlebih dahulu mengenai apa arti sebenarnya dari seni tari. Setelah kita mengetahuinya, kita bisa memulai dengan mengapresiasinya. Kita juga bisa menggunakan media sosial untuk mengunggah apapun yang berkaitan dengan seni tari. Terakhir, kita bisa mulai memberanikan diri untuk berkarya dan mengunggah karya tersebut ke media sosial pribadi. Demi pemaparan yang lebih jelas, Kak Fahrul tidak lupa menampilkan beberapa video guna membantu para audiens dalam membedakan jenis-jenis tari yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Pemaparan materi berikutnya dilanjutkan oleh Kak Christianno Rae, S.Pd. Kak Christianno memaparkan materi koreografi yaitu sebuah ilmu, tahapan, konsep, dan tata cara yang terwujud dalam aktivitas menciptakan ataupun mengembangkan karya tari. Menurut Kak Christianno, terdapat perbedaan antara koreografer dan penata tari, dimana koreografer merupakan setiap orang atau kumpulan orang yang menciptakan sebuah bentuk gerak tari yang baru hasil dari eksplorasi pikiran dan tubuh, sedangkan penata tari merupakan setiap orang atau kumpulan orang yang menyusun dan merangkai sebuah gerak tari yang sudah ada menjadi karya tari baru. Elemen pendukung tari menurut Kak Christianno terdiri dari musik, properti, dekorasi, tata pentas, visual effect, eksternal, tata rias dan busana. Di tengah penjelasan materi, Kak Christianno menekankan adanya perbedaan diantara jenis tari yang ada. Hal ini dilihat dari spesifikasi dari setiap tarian yang ditampilkan.

Menurut Kak Christianno, media sosial mengambil peran penting dalam mempromosikan tari tradisional karena merupakan bagian dari kebudayaan kontemporer yaitu selalu berkembang mengikuti zaman. Media sosial berfungsi sebagai digital marketing, online competition, social experiment, e-learning, research, dan educations. Banyak sekali bukan manfaatnya? Maka dari itu, pemanfaatan media sosial sebagai sarana ekspresi insan mandiri atau berkelompok digunakan untuk mengenalkan, mengekspresikan, memamerkan segala bentuk karya cipta bidang tari baik yang bersifat tematik, ekspresif, atau kritik. Sosial media seni tari tematik biasanya dapat berupa lomba tari daring, dance challenge, webinar, dan online workshop. Sosial media seni tari ekspresif dapat berupa karya cipta tari baru, tugas seni budaya, dan ekspresi hasil eksplorasi. Kak Christianno juga tidak lupa untuk menampilkan sebuah video demi membuat para audiens lebih mudah dalam menangkap maksud yang dimaksudkan dari pemaparan materi sebelumnya.

Tentunya, pengadaan webinar ini memberikan banyak wawasan baru bagi kita semua. Mungkin semula kita hanya berpikir bahwa tarian hanyalah sebuah ‘tarian’, padahal sebenarnya setiap tarian yang ditampilkan memiliki arti tersendiri dan tergantung dari jenis dan tujuan dari tarian yang dipilih untuk dibawakan. Akhir kata, tradisi Indonesia merupakan tradisi yang kaya, maka dari itu jangan sampai kebudayaan ini hilang begitu saja. Ayo ikut ambil andil dalam mempromosikan dan melestarikan kebudayaan Indonesia ini melalui media sosial pribadimu. Indonesia punya harapan dan harapan itu adalah kita!

Back to list