Berita Populer

Perencanaan Keuangan, Perlukah?

Sudah hakikatnya sebagai manusia, seseorang berangan-angan untuk memiliki kebebasan finansial ketika dirinya kerap menginjak usia yang sudah tidak produktif. Berada pada titik tersebut bukanlah suatu hal yang mudah, karena seseorang dipaksa untuk bersahabat dengan ketidakpastian ekonomi dunia. Sesungguhnya, goncangan ekonomi ini dapat teratasi jika mereka telah memiliki sistem perencanaan keuangan yang baik dalam kehidupannya. Menyadari pentingnya aspek tersebut, Trisakti School of Management mengadakan Sharing Session secara bertahap dengan mengangkat tema “Perencanaan Keuangan”. Sharing Session pertama dibuka dengan kata sambutan yang disampaikan oleh Bapak Arya Pradipta, S.E., Ak., M.E., CA., selaku Ketua Trisakti School of Management. “Keliatannya kondisi perekonomian negara tercinta kita ini akan panjang cobaannya, karena berdasarkan hasil diskusi saya, mengikuti seminar dan lain sebagainya baik di ranah kebijakan fiskal, yaitu kementerian keuangan, aturan kebijakan moneter yaitu bank sentral, Bank Indonesia kelihatannya perjuangannya masih panjang sekali,” ujar beliau dalam sambutannya.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemaparan materi yang disampaikan oleh Ibu Nila Pusvikasari, S.E., M.M., CFP. Sebagai pengantar materi, beliau menjelaskan tentang 4 level financial yang terdiri dari financial literacy, financial security, financial independent, dan financial freedom. “Pada level kedua, kita sudah mengerti bahwa uang masuk harus lebih banyak daripada uang keluar. Artinya, kita sudah bisa membuat anggaran, sudah bisa mengamankan keuangan kita. Pada posisi ini, kita juga harus punya dana darurat sehingga jika terjadi hal yang tidak diinginkan, setidaknya kebutuhan pokok kita bisa ter-cover dengan dana darurat tersebut,” ujar beliau dalam menjelaskan tahap kedua dari financial level.

Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa perencanaan keuangan pada dasarnya merupakan sebuah proses dalam mencapai tujuan hidup seseorang melalui manajemen keuangan yang terintegrasi dan terencana. Dinyatakan sebagai proses, karena dalam kehidupan seseorang biasanya memiliki tujuan yang beragam dan terbagi berdasarkan 3 periode utama, yakni jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Untuk membuatnya lebih mudah dipahami, narasumber menyertakan contoh dalam kehidupan nyata. “Misalnya jangka pendek, Bapak Jarwo ingin membeli laptop, karena laptopnya sering eror. Jangka pendek pun tetap harus terencana, supaya tidak mengganggu cash flow di kemudian hari,” jelasnya.

Setelah pemaparan materi selesai, Ibu Nicken Destriana, S.E., M.Si., selaku moderator memberikan kesempatan kepada partisipan untuk bertanya. Adapun salah satu partisipan menanyakan tentang tahapan yang harus dilakukan jika ingin mencapai financial freedom dimana uang bekerja untuk kita pada usia 40 tahun. “Kita harus memaksimalkan masa produktif, yaitu pada usia 20-40 tahun. Selain dari pendapatan tetap, kita juga harus mencari pendapatan lain-lainnya, bahkan pendapatan lain-lainnya harus lebih besar daripada pendapatan tetap kita,” jelas ibu Nila Pusvikasari, S.E., M.M., CFP dalam menjawab pertanyaan tersebut. Selanjutnya, acara diselingi dengan pembagian doorprize berupa saldo OVO kepada 2 partisipan yang beruntung sebelum ditutup dengan pemberian sertifikat sebagai bentuk apresiasi kepada narasumber.

Memperkaya ilmu perencanaan keuangan pada dasarnya sama dengan menabung untuk kehidupan di masa mendatang. Venita Vancasapel mengatakan “Financial planning is like navigation. If you know where you are and where you want to go, navigation isn’t such a great problem. It’s when you don’t know the two points that it’s difficult”. Akhir kata, sampai jumpa dalam Sharing Session berikutnya.