Ternate 2025 – Di panggung internasional, perbedaan antara kompetitor biasa dan seorang juara ditentukan oleh satu variabel krusial: ketahanan intelektual di bawah tekanan. Trisakti School of Management (TSM) baru saja mengirimkan pernyataan tegas mengenai kualitas pendidikannya yang melampaui standar nasional. Melalui performa impresif tim ActCountThink, TSM sukses mengamankan gelar Juara 1 pada ajang International Accounting Competition (IAC) 2025, membuktikan bahwa talenta mereka bukan sekadar kompetitif, melainkan penentu standar di level global.
Mengusung visi “Bridging Innovation and Integrity: Enhancing the Professionalism of Accountants in the Global Era,” ajang ini dirancang sebagai filter bagi para calon akuntan elit. Dari 33 tim yang berlaga, para peserta diuji melalui tiga fase eliminasi yang intensif: pengujian logika tim di babak pilihan ganda, kedalaman analisis teoretis pada babak esai individu, hingga diplomasi teknis dalam presentasi berbahasa Inggris di babak final.
Bagi delegasi TSM, kompetisi ini bukan sekadar ujian pengetahuan, melainkan sebuah ketahanan mental. Menghadapi finalis dari universitas besar seperti Universitas Katolik Parahyangan dan Universitas Diponegoro, tim ActCountThink membawa standar persiapan yang jauh melampaui rata-rata.
Kemenangan ini diraih melalui sinergi tiga mahasiswa Akuntansi angkatan 2022: Handy Brilliant (alumnus SMK Kristen Immanuel Pontianak), Kezia Grace Nathaniel (alumna SMA Poris Indah), dan Steven (alumnus SMA Yos Sudarso Batam).
Di saat tim lain mungkin merasa cukup dengan teori, ActCountThink memilih jalur “Total Preparation”. Mereka mendedikasikan waktu tanpa jeda untuk meriset materi, membedah struktur presentasi, hingga melakukan simulasi berulang kali sebelum menghadapi juri.
“Kami menyadari bahwa performa di panggung final adalah pantulan dari kerja keras di balik layar. Berlatih seharian penuh hingga larut malam bukan lagi soal kelelahan, melainkan soal memastikan setiap argumen kami tidak memiliki celah. Ini adalah perjuangan satu hari demi kemenangan yang abadi,” ungkap perwakilan tim.
Hasil akhir menjadi bukti nyata dari dedikasi tersebut. Ketajaman analisis dan kepercayaan diri dalam memaparkan solusi kompleks membawa TSM menduduki podium pertama. Keberhasilan ini mengungguli Universitas Katolik Parahyangan di posisi Juara 2 dan Universitas Diponegoro di posisi Juara 3.
Pencapaian ini adalah validasi bahwa kurikulum dan pembinaan di Trisakti School of Management (TSM) sangat relevan dengan tuntutan profesionalisme di kancah internasional. Bagi Handy, Kezia, dan Steven, gelar Juara 1 ini adalah langkah awal untuk terus mengukir prestasi di level yang lebih tinggi.
Semoga pencapaian monumental ini menjadi standar baru bagi seluruh mahasiswa untuk terus membawa nama Trisakti School of Management ke puncak tertinggi dunia.